Anda pernah jatuh cinta? sadarkah apa yang anda lakukan ketika jatuh cinta?

Tanpa disadari, para pencinta selalu menyebut nama orang yang dicintainya. Dimanapun, kapanpun selalu menyebut namanya. Selalu membicarakan dan menyebut kebaikan-kebaikan orang yang dicintai. Bergetar di dada jika mendengar nama kekasihnya.

Dalam pikiran selalu terbayang, selalu teringat, begitu lekat dalam benak. Selalu merindu menggebu ingin bertemu. Bahkan tak sedetikpun ingin berpisah. Selalu ingin bersama selamanya. Tak ada yang lebih membahagiakan selain bersamanya.

Dan jika rindu yang menggebu tak juga bertemu, syair-syair indah tiba-tiba berkelindan berjumpalitan berlompatan keluar dari dalam jiwa menumpahkan segala rindu yang membiru.

“duhai kekasihku….
engkau bagaikan matahari
engkau bagaikan rembulan
engkaulah yang selalu memberiku cahaya dalam hidup ini….”

Bagi para pencinta, tidak ada keburukan secuilpun pada kekasihnya. Segalanya adalah keindahan tiada tara dari sang pencipta.

Ada orang yang jatuh cinta karena “Pandangan pertama”. Tapi banyak juga yang “Cinta karena Kulina”. Bahkan lebih extrim lagi pepatah jawa yang mengatakan “Gething bakale nyandhing” (benci jadi cinta). Dari tidak kenal, menjadi biasa, akrab, lalu jadi selalu ingat dan akhirnya jadi cinta.

Ya, sering kali karena terbiasa kita jadi cinta pada sesuatu. Dan sebagai mantan marketing selama belasan tahun saya curiga pepatah jawa “tresno jalaran soko kulino” digunakan sebagai salah satu strategi pemasaran.

Sebuah produk meskipun sudah populer sekalipun, selalu di reklamekan (diteriakkan berulang-ulang). Diiklankan, dipromosikan keunggulan-keunggulannya, selalu didengung-dengungkan slogannya. Apa maksudnya?

Reklame, atau iklan, selalu dimunculkan dimanapun kapanpun secara terstruktur sistematis dan massive agar orang menjadi kenal, dan selalu ingat akan produk tersebut, tertanam dalam benaknya, selalu terbayang dan karena “kulina” itulah akhirnya timbul rasa cinta pada produk itu. Dan jika pada saat membutuhkan, alam bawah sadarnya memunculkan bahwa hanya ada produk itu. Produk yang lain menjadi lupa. Bahwa hanya produk itulah yang terbaik.

Ulama-ulama kita jaman dahulu pasti memahami soal ini. Oleh sebab itu secara terstruktur sistematis dan massive, untuk menumbuhkan rasa cinta pada Rosul, selalu diperdengarkan nama Rosul selalu didengungkan nama rosul, selalu disampaikan puja dan puji terhadap Rosulullah Muhammad SAW.

Dalam pidato selalu disampaikan “sholawat serta salam pada Nabi Muhammad”, Menjelang sholat dilantunkan pujian “Allahumma shollia ala Muhammad…” Rutinan maulidan dibacakan syair-syair indah “Anta syamsun …. anta badrun…. anta nuron fauqonur…”
“Engkaulah Matahari
engkaulah Rembulan
engkaulah cahaya di atas cahaya….”

Ya dengan demikian, tanpa sadar akan tertanam dalam benak, dalam hati Nama Muhammad.

Ketika tertanam dalam benak, lama kelamaan akan masuk ke dalam sanubari, masuk ke hati sehingga rindupun membuncah…

“Rindu kami padamu ya rosul… rindu tiada terperi….” Kata Bimbo.

Ya kerinduan yang teramat dalam, ingin berjumpa dan bersama Rosul di surga. Kebahagian apa yang melebihi kebahagiaan dapat bersama orang yang paling dicintai yaitu Nabi Muhammad SAW ?

Bahkan Sayidina Abu Bakar sampai berputar menari hingga terangkat jubahnya hanya karena Nabi berkata “di surga nanti engkau akan bersama orang yang engkau cintai” dan yang paling dicintai abu bakar adalah adalah nabi sendiri.

Jadi yang paling membahagiakan kelak di surga nanti adalah dapat berkumpul dengan Nabi Muhammad SAW. Bukan “Pesta sex dengan bidadari”….. apalagi cuma pesta Miras oplosan.