(Judul asli Bukan Sekadar Hijrah ”Busanawiyah”)

Oleh Saroni Asikin

BEBERAPA artis mengubah penampilan, terutama busana mereka. Mereka mengunggah foto penampilan baru mereka di Instagram dan ditajuki ”Hijrah”.


Pengikut mereka yang ratusan ribu atau jutaan mangayubagya. Mereka dipuji dan didoakan agar mereka istikamah. Media massa (cetak, daring, dan elektronik) memberitakannya dalam porsi jumbo. Kisah yang melatarbelakangi perubahan penampilan itu pun jadi santapan khalayak.
Selanjutnya ada dari mereka yang diberitakan (memberitakan diri di medsos) sedang mengembangkan bisnis tertentu, dan umumnya berkaitan dengan sesuatu yang syar’i (kata keren beberapa tahun belakangan seperti halnya hijrah, hijab, dll). Ada juga yang lalu menjadi penceramah, meskipun masih enggan atau malu-malu disebut ustadz atau ustadzah. Sebagian dari mereka surut dari dunia hiburan. Sebagian lainnya tetap berkiprah di dunia ”prahijrah” dengan syarat khusus: hanya untuk program yang tak menganggu atau bertentangan dengan jalur hijrah mereka.


Perubahan itu menurut saya biasa-biasa saja karena hal itu memang keniscayaan. Orang berubah, betapapun baru sebatas penampilan, itu niscaya. Yang menjadi tampak luar biasa adalah penggunan istilahnya: hijrah. Kata yang sekian lama bermakna teologis bergeser ke makna ikonik, atau semata bermakna fenomenal. 


Di luar latar belakang sejarah tentang hijrah Nabi Muhammad Saw dan pengikutnya dari Makkah ke Yatsrib (nama kota sebelum diubah menjadi Madinah An-Nabawiyah atau Madinah Al-Munawarrah), secara teologis menurut pendapat ulama, hijrah bermakna perubahan dari yang buruk ke yang baik, mencakup semua aspek perilaku seseorang. Karena itu, muncul istilah-istilah yang memperlihatkan cakupan luas makna hijrah. Ada hijrah i’tiqadiyah (perubahan keyakinan), hijrah fikriyah (perubahan cara berpikir), hijrah syu’uriyah (perubahan cita rasa), dan hijrah sulukiyah (perubahan akhlak).


Dalam konteks linguistik atau kebahasaan, pergeseran makna itu juga biasa. Ada banyak kata yang bergeser maknanya dari positif ke negatif dan sebaliknya, atau dari sempit ke luas dan sebaliknya. Karena biasa, kita sebagai pemakai bahasa tak akan terlalu baper mengikuti pergeseran makna itu. Ambil contoh kata ”preman” yang sebelumnya berkonotasi positif sebagai ”orang bebas atau merdeka” bergeser ke konotasi negatif yang merujuk ke orang-orang yang dianggap sampah masyarakat. 


Tapi terhadap pergeseran makna kata ”hijrah” yang menyempit dari teologis ke ikonik misalnya, agaknya kita layak baper atau bahkan superduper galau. Bila hanya ikonik, dan ikonnya semata penampilan fisik seperti berjilbab, ber-isbal (celana cingkrang), memelihara jenggot, atau membuat dahi hitam akibat kapalan, kata Bagong si anak Semar itu mayar alias sangat mudah. Bahkan kalau kebetulan Anda tak dikaruniai punya bibit jenggot, Anda bisa membeli produk penumbuh rambut, bukan?


Tapi hijrah adalah proses. Perjalanan Nabi Muhammad Saw dan pengikutnya menyusuri padang pasir, naik-turun bukit terjal ke Yatsrib itu suatu proses yang tidak mudah, berlarat-larat. Tak sekadar kelelahan fisik, tapi juga mental karena harus sangat awas menghindari kejaran orang Quraish. Hijrah cara berpikir dan cara berperilaku pun suatu proses yang tidak mudah.


Meskipun saya menganggap perubahan penampilan dan kiprah para artis itu hal biasa, saya tetap mendoakan hijrah mereka tak sekadar hijrah busanawiyah atau hijrah bisnisiyah, tapi yang paling penting hijrah sulukiyah (berakhlak lebih baik). Maklum, sebagai selebritis, segala perilaku mereka kemungkinan akan diikuti penggemar mereka. Barangkali bahkan segala ucapan mereka akan bertuah semacam ”fatwa”. 


Apa yang pernah dilakukan Teuku Wisnu setelah mendeklarasikan dirinya berhijrah patut kita ingat. Di dalam program televisi yang dia ampu, dia bilang ”memperdengarkan azan di telinga bayi itu tak ada dalilnya.” Meski dia belum mendaku sebagai ustadz, sekali lagi sebagai artis, ucapannya bisa bertuah sebagai fatwa, bukan? Bagi saya sih, Teuku Wisnu mengubah namanya menjadi Teuku Al-Fatih (Teuku Si Pemenang), itu hak dia. Tapi bila pada suatu hari (semoga tidak akan) dia mengatakan, ”Mengubah nama itu bagian dari hijrah.” Wah! (*)

Dimuat di Suara Merdeka, 24 Juni 2019