Oleh : Yasir Arafat Hatta (dilakukan beberapa penyesuaian)

SUATU KETIKA pada masa-masa sukar dalam dakwahnya, Nabi Isa bermunajat: “Duhai siapakah penolong dan penyokongku di jalan Allah?”

Maka menyahutlah sekelompok orang berhati lurus: “Kamilah pendukung dan penolong Engkau di jalan Allah.”

Mereka itulah para “Hawariyyun” yang menyatakan kesetiaan dan dukungan kepada Nabi Isa as. Seorang Rasul yang mengajarkan kelembutan hati dan kasih sayang kepada sesama manusia.

Tuhan tidak mengutus seorang Nabi sebagai RasulNya supaya ia kepontal-pontal tanpa pengikut dan penolong. Dalam lingkaran terdekat, Jesus dikelilingi 12 sahabat dan sekaligus murid utama yang kelak meneruskan dan menyebarkan risalah ajarannya ke berbagai penjuru sesudah Beliau tiada.

Demikian pula halnya dengan Muhammad saw, Rasul Allah setelah Isa as. Rasul ini menyempurnakan risalah ajaran kebaikan dan kasih sayang dalam bingkai fundamental “akhlaq al-karimah”; kemuliaan etika dan sikap yang dilengkapi pula dengan jurisprudensi syariat yang mencakupi aspek-aspek ruhani dan perilaku menyeluruh bagi kehidupan umat manusia.

Begitulah, di masa awal kerasulannya Muhammad saw mendapat dukungan kesetiaan dari para “as sabiq al-awwalun”; para pengikut paling mula dari fajar Islam. Selanjutnya, hadir para sahabat utama dalam lingkup perjuangan dakwah Rasulullah.

Lalu, siapakah para “Hawariyyun” dalam sejarah Islam?
Merekalah “Kaum Anshar”. Golongan masyarakat Yatsrib [: Madinah] yang telah beriman kepada Allah dan Rasul saw bahkan jauh sebelum Muhammad dan pengikutnya hijrah dari Makkah ke Madinah. Merekalah kaum yang sukar dicari bandingannya dalam hal ketulusan dan dukungan terhadap Rasulullah, muhajirin, dan Islam.

Ketulusan dukungan Kaum Anshar ini diakui dan dipuji bahkan oleh Allah swt sendiri:
“Dan mereka itulah penduduk Madinah [Anshar] yang telah menyatakan keimanan [baiat] bahkan sebelum kedatangan mereka [: Muhammad dan muhajirin]. Dan mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tiada menruh keinginan dalam hatinya terhadap apa-apa yang diberikan [: fadhillah] Allah kepada saudara mereka orang-orang muhajirin …” [QS. alHasyr: 9]

Itulah Kaum Anshar yang menyambut gempita kedatangan saudara yang mengungsi dari Makkah. Menerima saudara-saudara pengungsi itu dalam sepenuh penerimaan dan kemurahan hati; dengan segenap tulus sebagai keluarga dan selayaknya saudara kandung mereka sendiri.

Kaum Anshar menunjukkan kepada dunia perihal kasih sayang, solidaritas kemanusiaan, dan dukungan kepada sesama dengan harta, benda, jiwa, raga; lahir-batin dalam level dan kadar yang tinggi sekali. kala banyak masyarakat dan negara menolak bahkan mengusir para pengungsi dan pencari suaka, dunia bisa menoleh ke arah Madinah dan masyarakat Ansharnya.

Ibnu Abbas dalam riwayat Imam Bukhari menceritakan bahwa pada tahun-tahun awal muhajirin pindah ke Madinah, mereka [: muhajirin] biasa menerima warisan dari orang-orang Anshar, walaupun tidak ada hubungan nasab [: genetis] dan kekerabatan di antara mereka, namun karena mereka telah dipersaudarakan oleh Rasulullah saw.

Apabila direnungkan dengan tenang dan mendalam, kita dapat menangkap 3 hikmah dan siasah ilahiyah yang menjadi asas bagi dakwah Islamiyah sekaligus fondasi masyarakat dan peradaban Islam, yakni: pertama TAUHID [asas keEsaan Tuhan], kedua ALMUSAWWAMAH BAINA AN-NAS [asas persamaan:–anti rasial dan non-strata; Tak ada manusia yang lebih mulia kecuali atas basis ketakwaannya], dan ketiga UKHUWAH ISLAMIYAH [: persudaraan umat Islam ]. Maka tidaklah mengherankan apabila di antara hal paling mula yang dijalankan Rasulullah saw kala tiba di Madinah adalah mempersaudarakan di antara muhajirin dan Anshar.

Namun, kebiasaan saling mewarisi [harta] di antara Ansahar dan muhajirin di luar ikatan nasab dan kekerabatan itu kemudian dihapuskan dengan firman Allah Qs. anNisa: 33. Meski demikian, spirit dan sikap baku-bantu serta kemurahan hati orang-orang Anshar dalam keseharian sosial tiada berkurang sama sekali.

Diriwayatkan dari Imam Bukhari, pada suatu ketika Rasulullah saw kedatangan tamu dan bermaksud menjamu tamu itu di rumah Beliau. Akan tetapi dari para istrinya, Beliau mendapat kabar bahwa mereka tak mempunyai persediaan makanan untuk menjamu tamu. Maka Rasulullah saw menawarkan kepada para sahabat: “Siapakah di antara kalian yang berkenan menjamu tamuku ini?”

Seorang Anshar bersedia. Lalu diajaklah sang tamu itu ke rumahnya. Alas …! setiba di rumah, istrinya berbisik: “Kita tak punya makanan, kecuali sekadar makan malam bagi keluarga kita.” Sahabat Anshar berkata: “Hidangkanlah buat tamu kita, dan tidurkan anak-anak!”

Menjelang makan malam, orang Anshar ini berakting seakan hendak menyalakan lampu, namun sebenarnya dia malah mengeringkan minyak dari wadah lampu oncor-teploknya. Ia men-setting agar pas saat bersantap nanti, meremang dan lalu tumpaslah nyala lampu-lampu itu sebab kehabisan minyak.

Dan betul saja, mereka pun makan malam dalam remang nyaris gulita. Suami-istri ini mempersilakan tamunya menyantap apa yang sudah disediakan. Mereka berakting seakan mereka ikut makan malam bersama agar sang tamu tak sungkan. Walhasil, selepas acara makan malam itu mereka berangkat tidur dalam keadaan lapar, sedangkan si tamu terlelap dalam keadaan puas dan kenyang.

Keesokan hari, selepas sang tamu undur diri, si Anshar bertemu Rasulullah saw. Beliau berkata, “Semalam Jibril datang kepadaku dan dikabarkannya bahwa Tuhan sampai tersenyum dan takjub menyaksikan “akting” kalian berdua.”

Ketulusan si Anshar ini mewakili watak mulia kaumnya. Watak dan sikap melepas diri dari egoisme sempit dan memilih kelapangan murah hati. Kisahnya diabadikan Tuhan pada penghujung surat alHasyr ayat 9: “… Dan mereka mengutamakan kaum muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka membutuhkan juga apa yang mereka berikan. Dan orang-orang yang terbebas dari egoisme [: termasuk dalam hal ini kebakhilan] dirinya adalah orang-orang yang bakal meraih kemenangan.”

***

Ada banyak kisah menawan [: sejarah] perihal budi pekerti halus-mulia yang diwariskan oleh para “salaf as-shalih” [: orang-orang terdahulu] perihal persaudaraan, persahabatan, solidaritas, memuliakan, serta memikirkan dan mendahulukan sesama [: memprioritaskan dan berpihak kepada mereka yang lemah dan lebih membutuhkan], tentang spirit dan tauladan memerdekakan diri dari egoisme, serta kasih sayang dan kemurahan hati kepada sesama di kala sukar maupun lapang.

Suatu ketika Aisyah ra menerima tunjangan dari baitul mal [: dana perbendaharaan umat] sebesar 40.000 dirham. Seharian dia ditemani Ummu Burdah berkeliling Madinah membagikan uang itu kepada para fakir dan miskin hingga tandas. Berkatalah Ummu Burdah, “Duhai Ummul Mukminin, mengapa tak engkau sisakan sedikit untuk membeli makanan berbuka, bukankah engkau sedang berpuasa?”

Aisyah ra menjawab, “Duhai Ummu Burdah, menapa tak kau ingatkan aku tadi!?”

Dari Ibnu Umar diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Asy-Syu’ab: Seorang sahabat tertegun menerima kepala kambing. Terbetik dalam hatinya, “Si Fulan dan keluarganya mungkin lebih membutuhkan kepala kambing ini daripada keluargaku.” Maka dikirimkannya kepala kambing itu ke rumah si Fulan. Alas! Ternyata si Fulan ini pun berpikiran serupa. Maka dikirimkannya kepala kambing itu kepada tetangganya yang menurut dia lebih membutuhkan. Alhasil, setelah estafet melalui tujuh rumah, si kepala kambing finish– Kembali ke rumah si pengirim pertama.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dari Abdullah bin mush’ab az-Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit: “Alharits bin Hisyam, Ikrimah bin Abi Jahal, dan Suhail bin Amr, syahid pada pertempuran Yarmuk. Saat itu ditawarkan minuman kepada mereka yang terluka parah, tetapi semua menolak demi mendahulukan sahabatnya.”

Versi lebih detilnya seperti ini: Ketiga orang mujahid tersebut terluka dan kritis keadaannya. Ikrimah meminta air. Saat akan meminumnya, ia melihat Suhail memandang ke arahnya. “Berikan air ini kepadanya [: Suhail],” ujar Ikrimah. Sesaat akan menerima air minum itu, Suhail memandang ke arah Harits. “Berikan kepadanya lebih dahulu, ia tampak lebih membutuhkan,” ujar Suhail.
Namun, ketika si pembawa air sampai di posisi Harits, sahabat ini sudah syahid. Maka, segera dia kembali ke arah Suhail. Alas, ternyata Suhail pun sudah syahid. Bergegas dia ke Ikrimah, namun Ikrimah sudah syahid pula.

Dalam keadaan kritis pun mereka masih memikirkan dan mendahulukan orang lain ketimbang diri sendiri. Ketiga sahabat ini syahid [: wafat] seraya meninggalkan spirit dahsyat perihal persaudaraan dan persahabatan. Persaudaraan Islami sebagaimana yang dididikan Rasululah saw:

“Tak sempurna iman seorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” [HR. Bukhari-Muslim]

“Perumpamaan seorang muslim dengan sesama muslim dalam hal saling mengasihi, saling mencintai, dan saling berempati, bagaikan satu badan. Jika sakit satu bagian, seluruh tubuh ikut merasakan derita dan demamnya.”
[HR. Bukhari-Muslim]

“Belum sempurna iman seorang di antara kamu, sehingga saudara sesama terbebas dari perbuatan buruk lidah dan tangannya.” [HR. Bukhari-Muslim]

Di suatu kampung pada hari Jumat, terpekur beta menyimak sang khatib bertausiah:

“Di era post-industrial ini, orang-orang cenderung materialistik. Segala ditakar berdasarkan untung-rugi dengan kalkulator. Pengajian, saling tandang, silaturahim, dan amal, dipandang kurang berfaedah apabila tidak mendatangkan uang dan peluang menambah harta-benda serta memuluskan kepentingan. Perhubungan sosial dan antar sesama menjadi senjang. Kedekatan yang terjalin menjadi semu dan formal belaka. Orang-orang dan pertetanggaan mungkin dekat secara lahir, tetapi jauh secara batin.”