Rembang 25 September 2019 kemarin, kami panitia pembangunan RSI NU Mayong “dolan” dan “belajar kelompok” ke RSI NU Arafah Rembang.
Kami rombongan sebanyak sepuluh orang. Sungguh diluar dugaan sambutan yang diberikan. Kami disambut begitu luar biasa.
Mereka tampak “gembira” menyambut kehadiran kami. Padahal kehadiran kami pasti sangat merepotkan mereka.
Kami pun diajak keliling rumah sakit. Mereka begitu terbuka menunjukkan apa yang mereka punya.
Selesai keliling kami ngobrol bersama. Apa yang kami peroleh dari dolan dan belajar kelompok ini?
Sesuatu yang amazing bagi kami. Rumah sakit ini ternyata kelahirannya dibidani IHM (Ikatan hajah muslimat). Gerakan mereka dibawah YKM NU. sebuah lembaga dibawah Muslimat NU Cabang Rembang.
Apa yang membuat kami takjub adalah bagaimana perjuangan emak-emak dalam membangun rumah sakit ini.
Emak-emak Muslimat NU ini berkeliling njajah deso milankori mengumpulkan receh demi receh, hutang sana sini, untuk membeli sebidang tanah di pinggiran Jalan Pantura Rembang-Lasem bekas pangkalan truk. Lalu sedikit demi sedikit di bangun menjadi rumah sakit.
Dan setelah pontang panting berdarah-darah selama sepuluh tahun dalam kegelapan akhirnya “trontong-trontong” habis gelap terbitlah terang. Setelah sepuluh tahun, akhirnya rumah sakit bisa berdiri dan beroperasi.
Tampaknya Semangat Kartini -yang pernah hidup di rembang- begitu bergelora dalam jiwa mbok-mbok Muslimat ini. Mereka berujar kalau laki-laki bisa maka perempuanpun juga bisa. Tentu saja banyak cibiran membully mereka. Tapi mereka bergeming, keukeuh, jalan terus.
Akan tetapi sebagai manusia, mereka juga mengalami pasang surut semangat. Rembang sebagai daerah miskin-kata mereka- tentu banyaknya kesulitan, suatu ketika api semangat menyurut, lalu merekapun berguru ke RSI SOLO.
“Baru sepuluh tahun sudah nglokro, kami ini berproses duapuluh tahun” kalimat inilah yang menjadi bahan bakar yang menyalakan api semangat mereka, menimbulkan energi menggelora yang kembali menggerakkan mereka.
Ya itulah yang kami dapat. Mayong yang melahirkan Kartini. Kamipun mendapat “pencerahan”. Kalau perempuan bisa mengapa kami yang laki-laki tidak bisa?.
“nggih mbok kami assiaaaap jalan lagi”
Sepulang dari RSI Arafah kami mampir di museum Kartini di sana kami pun membaca tafsir alquran mbah soleh darat, seorang ulama kelahiran Ngroto Mayong.
Sepotong ayat semakin membuat semangat kami menggelora “minal dzulumati ila nur”. sepotong firman Allah yang memberi cahaya pada Kartini, “dari kegelapan menuju cahaya” habis gelap terbitlah terang.
“Bismillahi tawakkalna alAllah, lha khoula walaquwwata ila billahil aliyyin adzim”