Seorang laki-laki sedang naruh sepiring nasi lengkap dengan sebutir telor dan sebiji salak di pojok perempatan jalan. Dia ketemu seorang ustads, lalu, ditanya “Sedang apa kang?” dia jawab “Ini kasih sajen pada demit prapatan” ustads itu tanya lagi “Emang ngapain?”. Laki-laki itu jawab “Aku mau bangun rumah. biar slamet nggak diganggu demit-demit prapatan sini” ustads kontan komentar “wah haram itu syirik dosa”. Laki-laki itu ngeyel “lho dari dulu adat orang-orang tua memang begitu !”.
Lalu lewatlah seorang NU. Melihat keributan itu beliau bertanya “ada apa ini kok ribut-ribut?”. “ini pak yai. ustads ini nglarang saya kasih sajen pada demit prapatan”. Kyai itu tanya lagi “lho emangnya ngapain kasih sajen pada demit?” laki-laki itu menjawab “adat kita itu kan kalau mau bikin rumah biar lancar slamet nggak diganggu demit, kan harus kasih sajen pada demit-demit biar nggak ganggu…” “o.. gitu, tapi biar slamet lancar cara itu ndak sip. kurang itu… gini… kamu siapkan nasi yang banyak, lalu ingkung ayam lengkap dengan opornya. sana siapin dulu, nanti kalau sudah siap kabari aku ya, langkah berikutnya saya kasih tahu”.

Singkat cerita, laki-laki itu memasak dan menyiapkan arahan kyai NU tersebut. Setelah siap, kyai NU itu dikabari. “Pak yai, sudah saya siapkan apa yang pak yai suruh, terus ini saya sebar di seluruh pojok desa ya?” pak yai jawab “eit jangan dulu, kumpulkan dulu tetanggamu”.

Setelah semua orang kumpul pak yai berbicara “Bapak-bapak, ini teman kita ada yang mau bangun rumah, supaya lancar, slamet dan kalau ditinggali besok nyaman, keluarga tentram, mari kita minta pada sing gawe urip keslametan, kelancaran, ketentraman, mari ikuti saya”…

“Bismillahirrohmanirrokhim….. “

slametan (berdoa bersama minta keselamatan) pembangunan rumah
Bancaan (dari kata Ban Ciak) makan bersama seuasai berdoa.

Lalu mereka pun berdoa pada “sing gawe urip. Allah Subhanahuwataala”. Selesai berdoa pak yai pun berkata “Kita sudah minta keselamatan, kelancaran pada yang mencipatkan kehidupan ini, nah SAJIAN yang sudah disiapkan ini boleh kita makan, mari kita nikmati sajian ini… Bismillahirrohmanir rohim…”

Begitulah ulama yang arif dan bijaksana. Mengajar islam penuh dengan hikmah. Adat budaya lokal diisi dengan nafas Islam. Tak perlu dengan kekerasan.
tak usah teriak TAKBIR !! eh jadinya malah “Take Beer” (ayo minum bir)
Salam…