pertanyaan :

Seseorang disel di tahanan tidak diperbolehkan memakai pakaian yang dapat menutup aurat, bahkan kadang juga dipersulit untuk berwudlu. Karenanya, ia melaksanakan shalat dengan pakaian seadanya dan terkadang juga tanpa wudlu. Bagaimana hukum shalat orang tersebut?

Jawaban :

Shalat orang tersebut dengan tanpa menutup aurat hukum-nya sah dan tanpa i’adah (mengulang shalat). Sedangkan ketika dia shalat tanpa wudlu juga sah, namun wajib i’adah.

فَإٍنْ عَجَزَ عَنْ سَتْرِهَا صَلَّى عَارِيًا وَلاَ يُوْمِئُ بِالرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ بَلْ يُتِمُّهَا وَلاَ إِعَادَةَ عَلَيْهِ [هامش الباجوري 1/139]

“Bila seseorang tidak mampu menutup aurat, maka shalatnya dengan telanjang. Tidak boleh memakai isyarat ketika ruku’ dan sujud, tetapi harus disempurnakan sebagaimana biasa dan shalatnya tidak perlu i’adah, diulang”. (Hamisy al-Bajuri I/139).

أَمّ‍‍ا فَاقِدُ الطَّهُوْرَيْنِ فَصَلاَتُهُ صَحِيْحَةٌ مَعَ وُجُوْبِ اْلإِعَادَةِ عَلَيْهِ [هامش الباجوري 1/137-138]

“Adapun orang yang tidak menemukan air dan debu untuk bersuci, maka shalatnya sah dan wajib i’adah”. (Hamisy al-Bajuri I/137-138).