Saya memang bukan santri, ngajipun tidak intens seperti teman-teman saya semacam Ahamad Rofiq (branang), Miftahurrohman (sebelah Jembatan mayong), atau Abdul khafid (gajihan). Sehingga saat bicara mengenai agama tentu tidak sefaham teman-teman saya tersebut.
Saya ngaji sebentar di pondok pesantren yang diasuh KH Musyafa almarhum. Ngaji lho ya bukan mondok bukan nyantri.
dari ngaji yang cuma sebentar itu tentu saja pengetahuan agama saya tidak seberapa.
Mungkin yang paling saya ingat dari yang diajarkan pak Musa-demikian kami biasa menyebut beliau- cuma 2 hal.
Yang pertama beliau berkata :
“Wong kok dikon sholat, sodaqoh, poso thok. ra bakalan kelakon nek atine gak ditoto. tauhide gak dikuati. sing penting iku atine disik sing ditoto”
Saya pikir memang betul. banyak kiai, ulama yang selalu mengajarkan jika puasa di bulan ini maka pahalanya segini, jika sholat saat begini pahalanya sekian, jika sodaqoh maka gantinya sebesar ini. Jika melakukan ini-itu kalian masuk surga.
bukan tidak salah, tapi itu kan ngajari anak kecil… bukan untuk orang dewasa. Ngajari anak kecil kan begitu… “kamu ngaji nanti saya kasih hadiah”.
Akhirnya memang orang jadi mau ngibadah dengan niat pengin dapat pahala dan masuk surga, mereka menghitung berapa pahalanya bukan niat ikhlas karena Allah.
niatnya jadi semacam “dagang” dengan Allah (seperti kata cak nun). Padahal pahala dan surga bukan semata-mata karena ibadah yang kita lakukan, itu adalah hak prerogatif Allah
Kalau cak nun bilang sih ndak apa-apa wong memang tingkat imannya baru segitu.
ketika saya berdiskusi dengan Ali Murtadlo (anak seorang ulama di Demak) dan dengan Abdul Khafid (gajihan, guru Mts Sabilul Ulum, Alumni Tegal Rejo) kesimpulannya sama ada orang yang tingkatan imannya TK, SD, SMP, SMA, Sarjana, Magister, Doktor, dan Profesor.
tapi apakah para ulama membiarkan tingkatan iman umatnya hanya sebatas itu terus?
apakah para ulama ingin umatnya berkeimanan setingkat SD terus?
saya mengharap ulama mulai meningkatkan keimanan dan membentuk keihklasan umat meningkat dari yang hanya sekedar gugur kewajiban, meningkat menjadi “semata-mata mengharap ridlo Allah”
lalu beribadah karena cinta pada Allah (seperti Rabiah Al adawiah), syukur-syukur bisa meningkat lebih tinggi lagi keihklasan dalam beribadah karena sadar bahwa apa yang mereka lakukan semata-mata hanya karena Allah yang menghendaki dan memampukan kita melakukan ibadah itu.
dengan demikian tidak ada lagi rasa riya atau pura-pura ikhlas seperti memasukkan uang ke kotak masjid dengan ditutupi tangan seolah-olah ikhlas agar orang tidak tahu berapa uang yang dimasukkan.
kalau saya sih sodaqoh memasukkan uang ke kotak amal di masjid dengan saya tutupi karena malu cuma masukkan uang ribuan…
mungkin kalau puluhan ribu tidak saya tutupi…. halah malah jadi riya tho….
hambuh dul….

lalu yang saya ingat ajaran kiai musyafa yang kedua…