Sebuah tulisan “Awas cipratan najis” tertempel di dinding tempat buang air kecil di sebuah masjid agung.

Ya memang dalam sebuah hadist rasullullah menyampaikan cipratan najis dari air kencing dapat membuat kita mendapat siksa kubur dan masuk neraka,

oleh sebab itulah sebaiknya jika kencing kita jongkok.
Masalahnya adalah pada situasi tertentu laki-laki kesulitan jika harus kencing jongkok.

Saat mengenakan celana panjang misalnya, atau di pagi hari saat laki-laki bangun tidur, jika mau kencing jongkok bisa-bisa celana terkencingi, bahkan jika celana dilepas bisa mengencingi muka sendiri. Itu jika laki-laki sehat tidak terserang gula. Oleh sebab itulah laki-laki lebih suka kencing berdiri.

Di masjid, tampaknya mengakomodir kebiasaan laki-laki dalam kencing yaitu berdiri.

Tempat kencing yang tidak menggunakan urinior karena memang mahal harganya, tapi cukup membuat saluran air pembuangan air.

Untuk mencegah agar air kencing tidak “nyiprat”, tempat kencing dibuat ada tembok pendek penyekat antara orang yang kencing dengan saluran pembuangan air kencing.

Cuma masalahnya adalah, tembok setinggi kurang lebih 50 cm itu, memiliki ketebalan kurang lebih 5 cm. jika diperhitungkan, rata-rata ukuran alat kelamin laki-laki Indonesia saat sedang mengalami ketegangan 12-15 cm dan saat sedang biasa 6-7 cm, ditambah panjang telapak kaki dihitung mulai dari mata kaki sampai ujung ibu jari kurang lebih 15-20 cm, maka ujung alat kelamin laki-laki saat kencing pas berada diatas tembok penyekat tersebut.

Saat kencing hampir habis dan daya semprotnya berkurang, maka air kencing tadi akan jatuh dibagian atas tembok penyekat tadi. Hal inilah yang cukup membahayakan, karena tembok cukup tebal, maka sisa-sisa air kencing yang keluar akan jatuh tepat di atas tembok dan justru “nyiprat” ke arah orang yang kencing tadi. IMG_20160314_115811 - Copy

Upaya mencegah cipratan najis justru malah sebaliknya membuat cipratan najis. Hal ini tampaknya perlu menjadi perhatian bagi pengurus masjid yang masih menggunakan tempat kencing seperti itu.

Ada situasi yang menarik, upaya mencegah cipratan najis ini justru dilakukan lembaga non masjid.

Pertama kali saya menemukan adalah di salah satu bandara. Tempat kencing awalnya menggunakan urinior biasa, tetapi pada saat ini urinior dilengkapi semacam lembaran fiber yang ditata sedemikian rupa sehingga mencegah air kencing “nyiprat” kembali.
Entah karena alasan Agama atau alasan kesehatan, atau alasan agar orang yang habis kencing tidak bau karena pakaian yang terpercik air kencing, yang jelas upaya ini jauh lebih baik dengan perhitungan yang tepat untuk mencegah air kencing memercik balik dan membuat najis.

Tampaknya upaya ini juga sekarang ditiru beberapa bank. Urinior mereka di tata sama seperti yang di bandara.
IMG_20160308_142512
Masa masjid kalah sama bandara dan bank dalam mencegah najis?
jika Masjid kekurangan dana yang menjadi alasan Mungkin lebih baik jika tempat kencing dibuat ada lubang di depan orang kencing seperti gambar dibawah ini. Dengan bentuk seperti ini lebih aman dari cipratan najis.
IMG_20160326_070706