img_20180131_105906

KH DR Mujib Qulyubi, MA selaku Katib Syuriah PBNU
jakarta, dalam peringatan harlah NU ke 92 di Gedung
Wanita Jepara tanggal 31 Januari 2018 lalu, mewakili
Ketua Umum PBNU yang urung batal karena kondisi
kesehatan, Mengutip apa yang pernah Kyai Mustofa Bisri
sampaikan saat menjadi Rois Am PBNU, bahwa “Kita harus
bersyukur ladir di Indonesia, beragama Islam mengikuti
ahli sunnah waljamaah ala Nahdlotul Ulama”

Yang pertama disyukuri adalah lahir di Indonesia, baru
beragama Islam ahli sunnah waljamaan baru terakhir ala
Nahdlotul Ulama.

Mengapa kok yang disyukuri pertama itu lahir di Indonesia
?

Beliau menceritakan bahwa ada 5 negara yang mayoritas
islam tetapi negaranya tidak pernah tentram.

Negara-negara tersebut adalah Afganistan, Somalia, Yaman,
Iraq, Syiria. Hal ini bisa terjadi karena ulama hanya
memperjuangkan agama, membesarkan agama, memparbanyak
pengikut tapi tidak peduli pada negara. Tidak menanamkan
cinta kepada agama sekaligus cinta pada negara.

Di Indonesia yang juga mayoritas beragama islam, tapi
negara tetap damai. Hal ini karena di Indonesia ada NU
ditambah Muhammadiyah.

Jasa para ulama jaman dulu yang mengembangkan islam
sekaigus menanamkan kecintaan pada negara. Ulama mampu
menggabungkan kepentingan agama, sekaligus kepentingan
negara.

Sebelum Indonesia Merdeka, tepatnya tahun 1936 dalam
Muktamar NU ke 11 di Banjarmasin, para ulama sudah
bermusyawarah, berdiskusi, berfikir bahwa sebentar lagi
Indonesia Merdeka, lalu kalau sudah merdeka, kira-kira
apa bentuk negara Indonesia nanti?

Apakah Negara Islam ? Negara berdasar Suku ? atau
kerajaan ? atau apa?

Lalu ditemukan rumusan dalam kitab Duryatulmustasikin.
“Setiap tempat yang sudah ditempati orang Islam dan tidak
diganggu, orang menjalankan ibadah dengan damai, maka
negara tersebut sudah disebut darul islami, negara yang
damai.” dan di Indonesia kita bisa beribadat dengan aman
damai, oleh sebab itu kita tidak perlu bicara khilafah,
thogut.

Ulama juga mengikuti Imam Abu Hamid bin Muhammad bin
Hamid Al Gozali, dalam kitab Ihya Ulumudin, negara dan
agama itu saling membutuhkan, Agama itu Pondasi, sedang
Negara itu tempat dimana pondasi ditempatkan. Agama butuh
Negara, dan Negara butuh Agama.

 

Oleh Sebab itu Gusdur menyatakan Indonesia ini bukan
negara Agama dan bukan negara sekuler. Tapi negara
kesatuan Republik Indonesia.

Salah satu ajaran penanaman cinta tanah air seperti yang
diajarkan kyai Wahab Hasbullah yaitu slogan “Khubbul
Wathon Minal Iman”. yang dijadikan nyanyian “Jalal
Wathon”.

Negara ini harus damai, tentram karena di sanalah kita
beribadah dengan nyaman, dan kita bisa menjalin ukhuwah.

Selanjutnya yang kita harus syukuri, adalah kita islam
Ahlisunnah wal jamaah ala Nahdlotul Ulama.

Karena Ulama NU mengembangkan dan mengikuti cara ulama
dan wali yang membawa islam ke Indonesia dengan damai,
terbukti, bahwa Candi-candi hindu budha yang sudah
berdiri ratusan tahun tidak dihancurkan.

Yang saat ini membahayakan adalah berkembangnya media
sosial, orang belajar ilmu agama medsos, tidak jelas
jalur sanad ilmunya tapi sudah berani berdakwah.

Dalam NU hal semacam ini tidak bisa diterima. NU
menghargai sanad silsilah keilmuan. Pendiri NU Hasyim
Asyari sendiri merupakan urutan ke 14 dari Imam Syafi’i.
Sedang Imam Syafi’i lewat jalur Imam malik urutan ke 19
sedang dari jalur imam Khanafi urutan ke 21. Dengan
demikian ajarannya jelas dapat dipertanggungjawabkan.

Kepada para pengurus dan jamaah, KH Mujib menyampaikan
amanat muktamar NU ke 33 di Jombang, bahwa selain
mempertahankan amaliyah Nahdliyah seperti tahlil,
slametan, manaqib, maulid, mempertahankan fikriyah
nahdliyah seperti pemikiran soal negara kesatuan NKRI,
dan yang lebih penting adalah harokat nahdliyah. Yaitu
mengembangkan Pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.

Alhamdulillah saat ini sudah berdiri 24 Perguruan tinggi
NU. Untuk Ekonomi dan Kesehatan, Alhamdulillah di Sragen
ada program Koin Umat yang mampu mengumpulkan uang
senilai 5 milyar lebih yang dikumpulkan selama 2 tahun
dan digunakan membangun Rumah Sakit NU Sugih Waras.

Terakhir beliau berpesan agar jamaah dan pengurus
bersama-sama terus mengembangkan NU. karena Maju tidaknya
NU tidak hanya tanggung jawab pengurus, tapi juga
jamaahnya. Pengurus hanya sopir, jika sopir salah
penumpang harus mengingatkan.Candi-candi yang berusia ratusan tahun masih utuh tidak dihancurkan, bukti para wali membawa Islam dengan damai, Kyai NU mengikuti jejak para Wali, | Harlah NU