Repost dari : https://satitae.blogspot.com/2017/06/zakat-penggerak-ekonomi-umat.html?m=1

Kok bisa ? mana mungkin? Bukankah zakat, infaq sodaqoh itu ibarat orang memberi ikan ? bukankah ikan hanya sekali makan lalu

habis. Beda dengan orang memberi pancing, orang yang diberi bisa memancing ikan berkali-kali, bisa dimakan berkali-kali.

Mungkin juga banyak orang yang mempunyai pemikiran sama dengan saya sehingga mereka membentuk lembaga amil zakat lalu bikin program zakat produktif. Zakat yang mereka kumpulkan dijadikan modal usaha untuk para penerima zakat.

Masalahnya apa setiap mancing pasti dapat ikan? Apa pancing dapat bertahan lama ? belum tentu.
Demikian juga belum tentu orang yang diberi modal dapat menjalankan usaha dengan lancar dan berkembang.

Bisa jadi modal malah habis juga dimakan karena penerima modal tersebut memang kurang mampu berbisnis.

Sia-sia lah….
So ……?
Masa sih Allah salah ?
Lalu ….?
Duss …… ?
……………………………………………………..
Pada tahun 2008 terjadi krisis ekonomi secara global. Krisis ini merontokkan Negara-negara pemilik modal/capital besar, alias Negara-negara Kapitalis.
Justru Indonesia yang masih Negara berkembang, ekonominya masih tumbuh di atas 5 %. Sungguh luar biasa. Ada apa gerangan ?

Saya menduga orang Indonesia mampu bertahan dari badai krisis sejak 1998 karena :
“Orang yang punya duit, bertahan dengan membelanjakan uangnya, dan orang yang tidak punya duit, bertahan dengan hasil bumi yang dimilikinya.”

Orang yang tidak punya duit, makan nasi dari padi yang ditanam. sebagai penyedap rasa ditambah sambel dari Lombok hasil kebun. Sedang orang yang punya duit makan dengan beli beras dari para petani lewat para pedagang. Sebagai pelengkap, lauk dari hasil ternak para peternak.

Tampak bahwa bangsa kita memang tangguh dalam survival. Hampir tidak tampak ada peran pemerintah saat itu yang berarti.

Pada suatu kesempatan, Sri Mulyani sang Menteri keuangan. Memberi wawasan yang lebih Ilmiah. Perekonomian Indonesia bisa tumbuh karena konsumsi dalam negeri yang cukup tinggi. Dan pemerintah membantu dengan stimulant berupa BLT dan pengembalian PPH untuk karyawan dari 35 jenis usaha.

Saya merenung. Coba-coba menghitung. Jika di suatu desa penerima BLT sejumlah 100 rumah tangga sasaran, masing-masing Rp 100.000 maka jumlahnya Rp 10.000.000. lalu uang yang diterima dipakai belanja ke pasar beli beras, tahu-tempe, Lombok-bawang, lalu pedagang yang dapat uang bisa kulakan beras dari petani, tahu-tempe dari perajin yang kedelainya dari petani, Lombok-bawang juga dari petani, dan petani yang terima uang bisa beli sabun, odol, dan sampo dari pedagang, lalu pedagang yang dapat uang bisa kulakan sabun, odol dan sampo dari pabrik. Pabrik omset jadi naik, mampu membayar buruhnya, dan dapat keuntungan untung menambah modalnya sehingga bisa memproduksi lagi produk-produknya, karyawan yang dapat upah dapat belanja ke pasar begitu seterusnya.

Itu kalau Cuma 100 RTS. Padahal RTS yang ada tahun 2008 saja sudah 19,1 ribu, maka efek domino perekonomian pasti luar biasa besar.

Setelah saya pikir-pikir apa yang disampaikan Mulyani benar. Ini bukan berarti saya mendukung BLT dan sejenisnya. Karena program ini membuat orang terdidik jadi pengemis dan konsumtif.

Saya hanya Jadi teringat teori ekonomi bahwa salah satu factor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi dalam negeri. Selain itu ekspor-impor, dan belanja pemerintah., Oleh sebab itulah untuk keadaan darurat seperti ini saya mafhum.

Dan karena konsumsi dalam negeri inilah, Indonesia bisa tembus masuk G20. Yang lebih mencengangkan saya adalah prediksi para ekonom bahwa dengan demografi penduduk usia muda yang besar, kaya dan konsumtif, maka tahun 2030-2050 Indonesia bisa masuk G 8.

Wow, Wuih ….. !!!
……………………………………………………..
Saya coba bandingkan BLT (sejenisnya) dengan Zakat (fitrah dan Mal) serta sodaqoh.
Ternyata Sama-sama kasih ikan untuk konsumtif.
Yes mungkin ini jawaban dari pertanyaan saya di atas.
………………………………………………………
Saya coba merenung, pada saat menjelang Idul fitri, umat Islam yang mampu diwajibkan membayar zakat fitrah. Perorang 2,5 kg bahan makanan.

Untuk bisa membayar zakat fitrah ini, bagi yang bukan petani, mereka harus beli terlebih dahulu bahan makanan ini.

Jika bahan makanan ini berupa beras, dengan harga Rp 10.000, dan penduduk sekitar pasar yang wajib zakat dan harus beli beras berjumlah 1.000 orang saja, maka pedagang beras di pasar akan memperoleh tambahan omset sebesar Rp 10.000.000.

Saya Mengalami sendiri antri beli beras di pasar untuk membayar zakat.
Dengan tambahan omset yang diterima maka pedagang bisa menambah modal dan kulakannya. Petani yang menerima uang dari pedagang akan membelanjakannya di pasar, lalu pedagang bisa kulakan barang kebutuhan dari pabrik, pabrik bisa gaji karyawan, karyawan bisa belanja kebutuhan, begitu seterusnya, efek domino ekonomi dari zakat fitrah yang hanya sekali setahun.

Saya membayangkan, bukan hanya zakat fitrah saja yang dibayarkan, tetapi juga zakat mal.
Jika zakat fitrah dibayarkan hanya menjelang idul fitri, zakat mal bisa dibayarkan di waktu yang lain, karena hitungan Nisobnya dihitung setahun sejak diperhitungkan harta yang dimiliki seseorang. Jadi bisa saja tiap orang beda-beda waktunya.

Sangat mungkin tiap hari akan ada orang bayar zakat mal, tiap hari akan ada orang yang menerima zakat mal, dan tiap hari akan ada konsumsi masyarakat yang berefek domino dan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi bangsa dan negara ini.

Dengan pertumbuhan ekonomi secara makro, sangat mungkin penerima zakat infaq dan sodaqoh yang sebelumnya miskin, akan ikut tumbuh ekonominya, sebagai efek dari pertumbuhan ekonomi.

Bisa saja penerima zakat yang sebelumnya tidak punya pekerjaan, bisa dapat pekerjaan karena pabrik butuh banyak karyawan. Atau bisa saja mereka yang berdagang sebelumnya sepi berubah menjadi laris karena masyarakat punya daya beli kuat.

Dengan efek domino yang luar biasa besar ini, pasti efek itu akan kembali mengenai pembayar zakat tersebut, Usahanya semakin maju karena konsumen semakin meningkat daya belinya. dengan demikian secara pribadipun ekonomi mereka tumbuh lebih besar.

Barangkali inilah maksud dari janji Allah bahwa pembayar zakat, dan pemberi sodaqoh akan mendapat balasan yang lebih besar dari Allah melalui efek domino ekonomi ini.

Jadi bukan sekedar seperti perdagangan dengan Allah, bahwa pembayar zakat dan pemberi sodaqoh akan dibayar Allah dengan ganti sekian kali lipat.

Tapi jika anda meyakini bahwa Allah memang bisa diajak berdagang seperti itu ya monggo, sebab baru sebatas itu iman anda…. (begitu kata cak nun)

Lha emang Allah pedagang ?, Emang Allah butuh dengan amal kita….?
Amal kita akan kembali ke kita ya mungkin melalui efek domino seperti ini….. mungkin…..

Tapi yang jelas, prinsip ekonomi dalam Islam salah satunya adalah pemerataan pendapatan ya kira-kira mungkin seperti ini.
Bahwa zakat infaq sodaqoh bisa meningkatkan ekonomi rakyat ya mungkin seperti ini.

Oleh sebab itulah, Lazisnu harus dikelola secara profesional agar betul-betul membantu mensejahtetakan umat.